Rabu, 01 Oktober 2014
Welcome, October !
Akhirnya nulis lagi setelah satu dua, yap 3 bulan vakum. Gara-garanya males, inet di kosan jadi gak bisa diajak koordinasi mau cari wifi gratis waktu sepertinya belum memberikan kesempatan. Keliatannya selo, tapi ternyata banyak yang harus dilakukan.
Mengapa Travel Graduation? karena jalan-jalan setelah wisuda *nyengir*
20 Agustus 2014 lalu alhamdulillah saya telah resmi melepas status mahasiswa, rasanya masih gak percaya semua ini terjadi begitu cepat. Masih gak percaya saya pernah menyandang gelar status mahasiswa UGM jurusan Rekam Medis :|
Upacara wisuda terkesan biasa saja, gak begitu sakral menurut saya. Beneran biasa aja, ditambah lagi tanpa kehadiran orangtua, but it doesnt matter, bukan masalah yang besar sih, karena memang lebih baik seperti itu karena ajang wisuda menurut saja hanya seperti perpindahan tempat foto-foto :|
But, after all. Sangat bersyukur karena telah diberi kelancaran studi dari Allah SWT :)
Setelah prosesi wisuda selesai, mumpung travelmate saya sedang berkunjung, it's time to travel !
Sudah berencana untuk mendaki Gunung Merbabu.
G. Merbabu (22-23 Agustus 2014)
Start dari Jogja dini hari, yang sebelumnya ketemuan dulu sama Kak Ade (Anggota Backpacker Indonesia Regional Jakarta) di tengah perjalanan ban motor tetiba bocor, Celingak-celinguk nyari tambal ban yang masih buka, akhirnya ketemu juga walaupun dengan gak teganya bangunin mas-mas yang masih tidur. Perjalanan kembali dilanjutkan, dari 3 orang yang pergi tidak ada satupun yang tau letak pasti basecamp Merbabu ada dimana, dan waktupun terbuang hanya mencari-cari basecamp yang tak tau letaknya dimana. Smartphone tak lagi jadi smart ketika signal tidak didapat. Setelah muter-muter entah berapa lama, akhirnya sampailah kami bertiga di Basecamp Merbabu jalur Selo. Setelah sholat subuh, udara yang dingin tak menyurutkan niat kamu untuk istirahat tidur 'sebentar' yang ternyata tidur dari jam enam pagi sampe jam sebelas siang -______-
Setelah sholat zuhur, kami pun bersiap mendaki. Perjalanan dimulai dari jam 12 siang, dan ini pendakian gunung kedua saya setelah gunung lawu yang sudah 1 tahun berlalu. Kakinya langsung kaget diajak jalan jauh. Hahhaha
pukul 17.30 kami sampai di Pos Sabana 1. Merbabu sendiri punya 5 pos dan 2 Puncak. Setelah mendirikan tenda, masak-masak dan kemudian tidur.
puku 04.00 bangun lagi dan bersiap menuju puncak. Banyak banget yang mulai start ke puncak jam segitu, semuanya pada mau ngejar sunrise sih tapi kita sendiri gak dapet sunrise di puncak. But, that was still really awesome. Pukul 06.30 akhirnya sampe puncak Kentheng Songo.
Selalu bersyukur masih diberikan nikmat sehat atas segalanya sehingga saya masih bisa merasakan keindahan dari yang Maha Kuasa, yang dengan Kuasanya menciptakan yang bahkan keindahannya melebihi nalar manusia. Setiap perjalanan selalu memberikan pelajaran tersendiri. Dari pendakian ini saya belajar bahwa manusia itu makhluk sosial yang memang sampai kapanpun pasti akan bergantung dengan manusia lainnya, saling membantu satu sama lain. Dan belajar bahwa syukur itu sebuah kebutuhan, kebutuhan untuk menenangkan diri sendiri, bahwa kita akan selalu dicukupkan oleh Sang Pencipta ketika terus bersyukur, dalam keadaan seperti apapun. Dan belajar bahwa mata adalah kamera terbaik untuk menangkap dan mengabadikan keindahan apapun yang dipandangnya serta lobus temporalis adalah media penyimpan yang tidak akan pernah habis kapasitasnya.
| travelmate <3 |
| banyak yang juga mendaki, kala itu. Pos 2 |
| sebentar lagi sabana 1 |
| you will see, the mystic of Merapi |
| ciaobellaa hahahaha |
| Post Graduate Photo session |
| Sabana 1 |
| Senja akan selalu indah dilihat darimana saja, dari sudut pandang apa saja |
| Sunrise, seperti perbatasan horizon langit dan bumi. AWESOME |
| Menikmati sunrise di pertengahan jalan menuju puncak |
| Nikmat Tuhan yang manakah yang kamu dustakan? |
| Thankyou ! |
Selesai mendaki Merbabu, masih ada beberapa hari sebelum travelmate pulang ke Ibukota. Pacitan ! Destinasi berikutnya adalah Kota 1001 Goa ini yang hanya memiliki waktu tempuh 3 jam dari Yogyakarta. Start perjalanan dari Yogyakarta lepas ashar sekitar jam 4, memasuki wilayah pacitan hari sudah mulai gelap. Ternyata akses jalan sudah bagus tetapi masih sepi kendaraan. Lepas maghrib, jarang sekali ada kendaraan yang melintas menuju arah Pacitan, terutama dari arah Yogyakarta. Sempat bertanya arah pada salah satu counter pulsa, malah diberi informasi yang tidak diinginkan, bahwa kami disarankan untuk bermalam di daerah Pracimantoro karena Pantai Klayar (salah satu destinasi yang akan dikunjungi) baru saja memakan korban. Ada 2 orang anak yang hanyut ketika sedang bermain dan belum ditemukan, selain itu jalanan sangat sepi dan gelap. Rawan sekali bagi orang awan yang belum pernah kesana apalagi memakai motor (motor saya udah butut pula, tapi jangan ditanya kekuatannya hehehehe) Jadi bagi yang yang mau ke Pacitan, saya sarankan untuk start dari pagi saja, karena kalau malam selain gelap jalannya juga sepi bingits.
Pacitan terkenal akan wisata Goa dan pantainya. Karena waktu sangat singkat dan malam hari ada yang harus kembali ke Ibukota, kami memutuskan untuk mengunjungi Goa Gong, Pantai Klayar dan Pantai Banyutibo.
Perjalanan menuju Goa Gong dari pusat Kota Pacitan hanya kurang lebih 30 menit, Goa Gong adalah Goa terindah se Asia-Tenggara, baru kali itu saya memasuki goa yang sangat besar. Ternyata isi di dalam Goa gong seperti rumah yang bertingkat-tingkat. Baru kali pertama saya masuk dan langsung takjub akan keindahannya. That was really awesome. Kenapa disebut Goa Gong? karena ada salah satu batu di dalamnya yang jika dipukul, bunyinya seperti Gong. Selain itu masih banyak stalaktit dan stalakmit yang masih aktif di dalamnya. Disepanjang pintu masuk menuju goa Gong terdapat banyak sekali pedagang yang menjual dan menawarkan aneka bentuk dan warna batu akik.
![]() |
| bukan warna batu sebenarnya lo, itu cuma lampu sebagai penerangan aja. |
![]() |
| ini aslinya Subhanallah banget. Luar biasa besarnya :O |
![]() |
| salah satu batu kristal, bisa berpendar-pendar. |
Setelah muter-muter Goa Gong, perjalanan dilanjutkan menuju pantai Klayar dan Banyutibo. Pantai Klayar juga gak jauh dari Goa Gong, berjarak kira-kira 30 menit dari Goa Gong. Di pantai klayar ini terdapat tebing-tebing yang menjadi ciri khasnya, juga terdapat seruling samudra, yaitu seperti air mancur yang terdapat di tengah-tengah tebing tadi. Sayangnya, saat kami berkunjung kesana ombak sedang tinggi sehingga tidak boleh main-main di dekat seruling samudra. Kunjugan terakhir adalah Pantai Banyutibo, diambil dari bahasa jawa 'banyu' yang artinya air dan 'tibo' yang artinya jatuh. Yap, di pantai ini terdapat seperti air terjun kecil yang langsung jatuh ke laut. Menarik, air terjun kecil itu berasal dari aliran air sungai kecil yang mengairi sawah penduduk di sekitar pantai. Very nice beaches to visit !!!
![]() |
| itu yang tanda merah, TKP seruling samudra. Kalo ombak lagi gak gede, kita bisa turun kebawah sana |
![]() |
| view dari atas, abaikan aja yang lagi pake kacamata diatas kepala itu |
![]() |
| view dari bawah, berasa lagi di mesir ya? hahaha |
![]() |
| ada yang lagi takjub dengan tempias ombak yang bertabrakan dengan tebing. |
![]() |
| ini dia, Pantai Banyutibo. Pas nyampe sini, pas tengah hari banget, matahari lagi seneng-senengnya soalnya. |
![]() |
| tebingnya tinggi banget |
![]() |
| so blueeeee |
Jalan-jalan bagi saya itu, selain buat refreshing.
Juga merupakan sebuah kebutuhan kalo lagi haus pengetahuan, haus belajar.
Selain bisa menyenangkan diri sendiri karena bisa bertemu orang-orang baru dan orang-orang baik dalam setiap perjalanan.
Juga bisa mencukupkan diri dalam menjalani hidup.
Lets get lost !
Label:
LIFE,
moments :),
wisataaaa
|
0
komentar
Rabu, 02 Juli 2014
Yogyakarta.
Sudah hampir 3,5 tahun aku menetap di kota ini. Kota dengan segala keistimewaan dan kenyamanannya. Kota dengan segala budayanya. Kota dengan segala kenangan tentang segalanya. Kota tujuan pertamaku untuk merantau, kota yang aku percayai akan membawaku ke arah lebih baik.
Yogyakarta, aku nyaman menetap kota ini. Kota dengan segala keunikan budaya yang masih kental. Kota besar tapi masih menjunjung tinggi tata krama dan adat istiadat, jauh dari budaya metropolitan.
Yogyakarta seperti menyerap seluruh kehidupanku. Menyerap segala kenangan 18 tahunku di kota kelahiranku. Kota rantau ibu dan bapakku. Bagaimana bisa hanya dengan 3,5 tahun di kota ini aku bisa sangat nyaman dan tak ingin kembali? Bagaimana bisa 3,5 tahun itu aku mengubah segala keinginanku agar aku bisa menetap disini?
Yogyakarta, tujuanku sudah hampir selesai disini. Tugas masa belajarku sudah (hampir) selesai. Aku belajar untuk menepati janji pada kedua orangtuaku untuk lulus tepat waktu, dan itu telah aku usahakan. Sebentar lagi, mau tidak mau, suka tidak suka, sepertinya aku harus kembali.
Yogyakarta, bagaimana jika aku terlanjur jatuh cinta?
ditulis dengan penuh kegalauan mengurus revisi Tugas Akhir.
Mengejar batas yudisium untuk wisuda Agustus nanti
3 Juli 2014
H-5 menuju batas akhir pengumpulan berkas
Label:
LIFE
|
0
komentar
Rabu, 21 Mei 2014
setiap pertemuan yang direncanakan oleh Tuhan
pasti akan ada perpisahan yang direncanakan oleh Tuhan pula
setiap pertemuan pasti akan berproses
setiap perpisahan pasti akan menemui masa
setiap pertemuan pasti akan ada pembelajaran sebelum ia jatuh tempo dan menemui perpisahan
Sebenarnya, aku telah bertekad tidak akan menulis tentang ceritaku kali ini. Cerita yang sebenarnya akan aku simpan dalam -dalam. Tapi ternyata tekadku belum bulat. Pada akhirnya aku menulis juga. Hanya untuk membuat hati dan perasaan lega.
Aku tau pertemuan itu bukanlah merupakan sebuah kebetulan, tapi sudah menjadi perencanaan Tuhan agar aku bisa mengambil makna dari sebuah proses pertemuan sebelum berakhir pada perpisahan.
Tapi hingga sekarang, tetap saja aku masih tidak menyangka proses awal pertemuan sama seperti pikiranku, yang hingga sampai sekarang masih tidak menyangka cerita akhir perpisahannya. Sama seperti pikiranku yang tidak menyangka kenapa aku bisa padahal masih banyak tanda tanya yang berlalu-lalang. Haha namanya juga takdir, mungkin Allah memang ingin memberikan sesuatu yang lebih kepadaku agar aku bisa lebih menghargai segala sesuatu, agar aku bisa memilah dengan baik, agar aku tidak lagi ceroboh, agar aku bisa lebih bijak menghadapi kenyataan, agar aku bisa lebih tegar (?)
Ketika kamu membaca ini, aku yakin rasa sakit itu belum hilang. Tapi tenang saja pasti akan berangsur hilang, hanya butuh waktu yang cukup lama entah berbulan-bulan, entah bertahun-tahun, entahlah. Dan kamu tahu itu karna aku pernah menjelaskannya.
kamu hanya tidak perlu cemas tentang keadaanku atau tentang kehidupanku, disini aku jelaskan. Semuanya berjalan baik-baik saja. Kehidupanku berjalan normal seperti biasanya. Jadi, kamu tidak perlu lagi khawatir tentangku. Pada suatu saat aku bisa berjalan tegak kembali, aku pasti akan bermimpi lagi dan mungkin jatuh cinta lagi. Menikmati kembali kehangatan yang serupa sebelum aku mengalami kehilangan. Saat ini aku untuk berusaha memantaskan diri, memperbaiki diri untuk sebuah mimpi, cita dan mungkin juga cinta, agar lain kali aku tidak gagal (lagi) atau kehilangan (lagi)
Kamu mungkin tidak tahu rasa sakitnya seperti apa. Karena menurut peribahasa, " Kamu tidak akan pernah bisa memahami seseorang sebelum kamu melihat segala sesuatu dari sudut pandangnya, hingga kamu menyusup ke balik kulitnya dan menjalani hidup dengan caranya" . Tapi lagi-lagi aku tekankan, kamu tenang saja. karna aku pasti akan terus berjalan dan berusaha untuk tidak melihat kebelakang.
Tapi untuk kali, apakah aku boleh mengulas kebelakang? Hanya sebentar saja. Untuk kali ini saja. Selanjutnya aku akan mempersiapkan masa depanku, dan kamu juga harus mempersiapkan masa depanmu.
Aku suka mengobrol denganmu hingga ketiduran, aku merasa nyaman dengan itu. Aku sebenarnya tidak suka mengakhiri percakapan, aku lebih suka diakhiri dengan ketiduran karena dengan begitu aku lebih merasa nyaman dan seperti ada yang menjagaku.
Aku suka berdebat denganmu. Karena apapun topiknya, aku pasti akan memenangkan itu. Walaupun argumenku salah, kamu tetap akan mengalah.
Aku suka ketika dikunjungi tiba-tiba. Rasanya selalu seperti kejutan, padahal sudah berkali-kali dilakukan. Rasanya tetap saja sama, bahagia.
Aku suka ketika dikunjungi tiba-tiba. Rasanya selalu seperti kejutan, padahal sudah berkali-kali dilakukan. Rasanya tetap saja sama, bahagia.
Aku suka merencanakan perjalanan. Karena aku suka berjalan, kamu pun begitu. Kemanapun pergi, aku merasa terlindungi walaupun gerak gerikmu tidak mencerminkannya hahaha. Rasanya nyaman saja seperti ada yang menjaga.
Aku suka caramu membuatku tertawa, rasanya bisa meringankan bebanku berkali-kali lipat.
Terkadang aku mengeluh ketika memang berada diambang batas menyerah, tapi kemudian kamu menegurku, aku memang tidak seharusnya seperti itu.
Aku itu pelupa, tapi kamu tak pernah lupa untuk mengingatkan.
Dan ada sekian banyak hal lainnya yang sebenarnya bisa aku tuliskan. Tapi mungkin cukup beberapa saja untuk menjadi perwakilan untuk mengucapkan rasa terimakasih atas segalanya :)
Dan karena pertemuan itu akan terus aku putar berulang-ulang. Agar aku dapat belajar, segala sesuatunya harus disyukuri. Ada hati yang akan terus ditempa, ada hati yang akan terus belajar untuk dewasa, ada hati yang semakin paham, semakin mempercayai bahwa Tuhan adalah yang paling ahli merencanakan segala sesuatunya. Karena sesingkat-singkatnya sebuah pertemuan, didalamnya pasti Tuhan selalu menyelipkan sebuah tujuan.
Terkadang aku mengeluh ketika memang berada diambang batas menyerah, tapi kemudian kamu menegurku, aku memang tidak seharusnya seperti itu.
Aku itu pelupa, tapi kamu tak pernah lupa untuk mengingatkan.
Dan ada sekian banyak hal lainnya yang sebenarnya bisa aku tuliskan. Tapi mungkin cukup beberapa saja untuk menjadi perwakilan untuk mengucapkan rasa terimakasih atas segalanya :)
Dan karena pertemuan itu akan terus aku putar berulang-ulang. Agar aku dapat belajar, segala sesuatunya harus disyukuri. Ada hati yang akan terus ditempa, ada hati yang akan terus belajar untuk dewasa, ada hati yang semakin paham, semakin mempercayai bahwa Tuhan adalah yang paling ahli merencanakan segala sesuatunya. Karena sesingkat-singkatnya sebuah pertemuan, didalamnya pasti Tuhan selalu menyelipkan sebuah tujuan.
Label:
LIFE
|
0
komentar
Rabu, 07 Mei 2014
Saling mencari satu sama lain.
Hingga pada suatu hari mereka bertemu,
dan merasa saling menemukan.
- Kurniawan Gunadi
Label:
quotes
|
0
komentar
Rabu, 09 April 2014
Buku itu jendela dunia.
Tapi untuk melihat dunia, kamu harus keluar dari jendela itu.
Keluarlah, selagi kamu punya kesempatan.
Untuk membandingkan tentang apa yang telah kamu lihat dari jendela, dengan dunia nyata diluar jendela.
Jika ada jendela terbuka lebar di hadapanmu, keluarlah.
Karna kesempatan belum tentu akan datang untuk kedua kalinya.
-- wny
Lagi-lagi disela sela lagi sibuk-sibuknya ngurusin Magang, Tugas Akhir dan proker organisasi. Saya melarikan diri (lagi). And well, the next destination is Lombok Island !
Mungkin bukanlah sebuah hal besar bagi orang-orang yang seringkali jalan-jalan kemana-mana, tapi bagi saya bepergian kali ini merupakan hal besar, tanpa pernah saya tahu Lombok itu seperti apa, bagaimana keadaannya. Modalnya cuma niat, nekat dan bekal seadanya.
Entah kenapa tiba-tiba punya keinginan buat kesana, sebenernya sih mumpung ada waktu, teman jalan, dan kesempatan. Why not? Hehe
Perkenalkan partner jalan-jalan saya kali ini, Mas Edvan Zakaria hahahah. Sudah berkali-kali menemani saya jalan-jalan yang entah tujuannya udah kemana aja. Minggu lalu sebelum saya dan partner ke Lombok, sempat mengunjungi Dieng Plateau terlebih dulu.
Saya dan partner adalah orang yang serba dadakan, destinasi ke Lombok ini juga tidak direncanakan jauh jauh hari, H-3 sebelum keberangkatan baru direncanakan, segala itinerary dan lain halnya juga dadakan. Dan lagi saya berangkat dari Jogja sedangkan partner berangkat dari Kediri, janjian ketemu di stasiun Surabaya baru melanjutkan perjalanan bersama-sama.
Hari H pun tiba.
Saya ketinggalan kereta, awal yang udah gak enak banget. Kereta berangkat pukul 07.45 sedangkan saya tiba di stasiun 07.46 cuma beda satu menit tapi merubah seluruh rencana -_______-
Sempat panik, kereta tujuan surabaya yang lain harganya mahal dan lama. Dapet nasehat dari ibu-ibu yang asalnya dari Banyuwangi, akhirnya saya memutuskan untuk naik bis yang itu berarti pengeluaran untuk transportasi akan lebih besar dari rencana sebelumnya. Sempat ingin menunda keberangkatan untuk esok hari, tapi sayang waktunya. Lebih cepat lebih baik.
Sampai di Terminal Giwangan Jogja, saya langsung memutuskan untuk naik bis Patas menuju Surabaya. Bukan tidak mau menaiki bis ekonomi, lagi-lagi masalah waktu dan kenyamanan. Minggu sebelumnya saya mendapatkan kejadian tidak enak ketika menaiki Bus Eko AC arah Surabaya ketika mengunjungi nenek di daerah Ngawi, Jawa Timur. Berangkat dari Jogja menuju Surabaya pukul 09.00. Kemudian rencananya akan melanjutkan perjalanan Surabaya - Ketapang dengan berganti bus di terminal Surabaya.
Karna saya ketinggalan kereta, saya mengusulkan kepada partner bahwa meeting point diubah jadi di stasiun Banyuwangi Baru saja, kemudian baru nyebrang ke Pelabuhan Ketapang sama-sama. Saya yang sok tegar berkata seperti itu, padahal saya tau kondisi terminal Surabaya itu keras dan penuh dengan calo-calo tak bertanggungjawab. Tapi ternyata partner nyusul ke terminal Surabaya hehehehe *blush*
Jam 18.00 saya tiba di terminal Surabaya, BungurAsih namanya. Jam 19.00 kemudian kami melanjutkan perjalanan menuju pelabuhan Ketapang, Banyuwangi. Waktu tempuh dari Surabaya-Ketapang adalah 8 jam dengan bis yang oper operan sana sini.. Akhirnya pukul 03.00 pagi sampailah kami di tempat pemberhentian terakhir bis. Jarak pos pemberhentian terakhir dengan pelabuhan Ketapang kurang lebih 3km, ditempuh dengan berjalan kaki, lumayan olahraga pagi hahahahah -________-
Sampai di pelabuhan Ketapang, berdua kemudian istirahat, mandi dan sholat. Setelah itu langsung melanjutkan perjalanan mengingat waktu juga terus berjalan. Pukul 06.00 kami melanjutkan perjalanan ke pelabuhan Gilimanuk sambil berharap harap bisa dapet sunrise di atas ferry, tapi ternyata (selalu) gak dapet, hahahahah
Pukul 06.45 WIB atau 07.45 WITA kami tiba di pelabuhan Gilimanuk. Sesampainya kemudian bertanya-tanya kepada petugas dinhub dan warga akses menuju pelabuhan Padang Bai. Ternyata bis Gilimanuk-Padang Bai hanya beroperasi pada jam 1-3 pagi WITA. Akhirnya rute perjalanan beralih menjadi Gilimanuk - Denpasar - Padang Bai.
Harga bis Gilimanuk - Denpasar (terminal Ubung) adalah 30ribu dengan fasilitas nature air conditioner dan waktu tempuh kurang lebih 5 jam. Well it's so long. tapi gak begitu kerasa karna capek banget, akhirnya tidur di bis. Setelah sampai di terminal Ubung, Denpasar kira2 pukul 12.30 WITA istirahat sebentar, makan sambil cari cari info bis ke Padang bai. Dapet nasehat dari ibu-ibu yang punya warung makan, kalo mau nanya-nanya bis mending tas dan segala perlengkapannya disimpen atau ditaroh dulu aja. Karna kalo udah sambil bawa barang, bisa jadi sasaran para calo-calo tak bertanggungjawab. Akhirnya setelah 30 menit mencari, dapetlah tebengan jurusan Jakarta - Bima, bis ke dari Terminal Ubung - Mataram seharga 100rb/org. Lumayan bisnya enak, AC, tetapi agak awkaward moment, karna kami berdua serasa orang asing di dalam bis tersebut -,-
Jika dikalkulasikan sepertinya kami cukup beruntung mendapatkan tumpangan dengan harga segitu hingga kota Mataram.
Start perjalanan dari Terminal Ubung - Mataram pukul 13.29 WITA ditambah kurang lebih 4,5 jam penyebrangan dengan ferry ke Pelabuhan Lembar Lombok. Akhirnya sampai pelabuhan Lembar Lombok pukul 20.00 WITA. Kemudian dari Pelabuhan Lembar Lombok kembali melanjutkan perjalanan dengan bis menuju terminal Bertais kurang lebih 1 jam. Di Terminal Bertais, kami dijemput oleh salah seorang anggota UKESMA, Mas Adi *hulahop* setelah itu kami dijamu, menentukan tujuan untuk beberapa hari ke depan, lalu istirahat. Perjalanan dari Jogja-Mataram ditempuh kurang lebih 35 jam perjalanan -______________________-
Day 1 : Snorkling di Pantai Pink, Pulau Semangkuk, Gili Indah, Pantai Pink 2, Tanjung Ringgit.
Day 2 : Pantai Kuta - Tanjung Aan - Pantai Batu Payung - Pantai Novotel - Kuliner Ayam Taliwang - cari penginapan
Day 3 : Cari oleh-oleh ; Sengigi ; Gili Trawangan.
Day 4 : Pulang
Day 1 : Hari pertama langung menuju Pantai Pink, dapet saran dari Komunitas Lombok Backpacker karna Pantai Pink masih jarang terjamah oleh para wisatawan, masih murni dan asri. Waktu tempuh dari Mataram ke Pantai Pink kurang lebih 3 jam perjalanan menggunakan motor. Jalanan di Kota Mataram begitu lengang dan sama sekali tidak ada macet-macetnya. Tidak begitu terlalu banyak traffic light. Pantai Pink Terletak di Tenggara Pulau Lombok, Sekitar 2km sebelum menuju pantai Pink akses jalannya tidak begitu bagus, jalanan belum beraspal dan masih asli dari tanah. Lebih baik menggunakan motor apabilam berkunjung ke tempat ini, daripada memakai mobil dan harus mendorong mobil karena resiko ban selip sangat besar, hehe
Pukul 07.00 WITA berangkat dari rumah , jam 10.00 WITA kita sampai di Pantai Pink. Absolutely beautiful beach. Pasirnya bener-bener pink. Hanya ada satu grup wisatawan dari Jepang yang sedang berkunjung waktu itu selain kami. Setelah sampai disana, beberapa menit kemudian dihampiri oleh penduduk setempat dan menawari snorkling keliling 3 tempat yaitu Pantai Pink 1, Pulau semangkuk, Gili Indah dan Pantai Pink 2. Setelah tawar menawar harga, akhirnya deal 250k seharian udah sama boat dan 3 alat snorkle. Keindahan bawah laut di 3 perairan itu. I cant describe it. Keren banget, keren ! Dari permukaan air, terumbu-terumbu karangnya udah keliatan banget. Terumbu karang udah berkumpul semacam hutan dalam bawah air, dan hanya berjarak 2 meter dari permukaan air sudah dapat melihat koloni rumah ikan nemo. Diajak keliling 3 tempat sama bapaknya yang punya boat, bapaknya baik sayangnya saya lupa namanya :|
pas di tempat ketiga yaitu Gili Indah, cincinnya Mas EZ jatuh tenggelam dan tak ditemukan udah dibantu bapaknya nyari tapi tetep gak ketemu, mungkin pertanda siapa tau bakal kesana lagi :D
Selain cincin yang tenggelam, tangan kanan saya juga ketumpahan air mendidih pas bikin kopi di atas boat :|
But, well semuanya terbayar sama pemandangan di Pantai Pink 2. Awesome.
Pukul 16.00 kami memutuskan untuk menyudahi jalan-jalan, kemudian mandi dan sholat. Karena merupakan kawasan wisata yang baru dibuka dan belum terlalu terkenal. Fasilitas disana pun sangat minim. Jangan kaget jika kesana, tempat ganti bajunya hanya berupa bilik dari kayu seadanya yang hanya ditutupi gorden. Begitu pula dengan toiletnya, dibangun dari bilik bambu, beratapkan langit, airnya pun harus ditimba terlebih dahulu, saluran air seadanya dan kadang tergenang disekitar bilik. Semoga pemerintah daerah bisa cepat peka akan adanya potensi alam yang besar di daerah tersebut dengan membangun fasilitas dan menjadikan sebagai tempat pariwisata yang layak.
Pukul 17.00 kami berpamitan dengan penduduk sekitar, mengunjungi Tanjung Ringgit untuk hunting sunset. Tanjung Ringgit merupakan ujung pulau Lombok. Dari sana kita bisa melihat luasnya samudra dan jejak jejak sejarah bekas perjuangan pejuang kemerdekaan dahulu kala.
Tanjung Ringgit is the most romantic place ever ever <3
Day 2 : Hari kedua, dikejutkan dengan berita meletusnya Gunung Kelud. Semangat jalan-jalan jadi hampir hilang. Handphone berdering terus menerus. Masing-masing sibuk dengan urusannya. Yang satu koordinasi pembentukan posko bantuan di Jogja, yang satu sibuk koordinasi dengan daerah meletusnya Gunung Kelud. Rencana jalan-jalan jam 08.00 pun jadi tertunda hingga pukul 10.00. Dengan pikiran yang masih kemana-mana akhirnya tetap memutuskan untuk melanjutkan perjalanan ke pantai Kuta, Tanjung Aan, Batu payung dan sekitarnya. Di tengah perjalanan, hujan melanda, rantai motor lepas seperti senasib dengan perasaan dan pemikiran. Sesampainya di tempat tujuan Pantai Kute, Tanjung Aan, Batu Payung, Pantai Novotel dll masih juga disambut dengan hujan yang cukup deras. Pantai pantai ini terletak berjajar dan masih berada di satu kawasan. Pantai Kute merupakan pantai yang paling ramai dan dipenuhi dengan wisatawan asing, tapi tidak seramai jika dibandingkan dengan pantai Kuta, Bali.
Setelah mengunjungi pantai-pantai tersebut menjelang maghrib memutuskan untuk kembali ke Mataram, singgah di monumen Masjid sekedar untuk berfoto, singgah lagi untuk menyantap kuliner Ayam Bakar Taliwang yang ternyata harganya lumayan merogoh kocek, walaupun hanya makan di pinggiran jalan. Ayam Bakar Taliwang merupakan kuliner khas lombok, ayam kampung berukuran sedang dengan bumbu kacang khas lombok. Satu porsi ayam bakar taliwang + nasi yang waktu itu saya coba adalah 34ribu/porsi. Harga yang lumayan bikin dompet langsung masuk angin.
Setelah mencicipi kuliner ayam taliwang, kami memutuskan untuk mencari penginapan di Mataram karna Mas Adi akan lebih dulu pulang ke Jogja. Harga penginapan di Mataram cukup murah. Mulai dari 30rb/malam hingga 200rb/malam. dan itu terletak di pusat kota Mataram. Adalah Hotel Internasional yang memiliki harga kamar 30rb/malam dengan fasilitas kamar mandi luar. Tapi saya tidak menyarankan disini karna kebersihan dan fasilitasnya kurang terawat. Di hotel Internasional juga manyediakan rental motor dengan harga 50rb/hari.
setelah mencari beberapa lama akhirnya kami memutuskan untuk bermalam di Hotel Merpati, dengan fasilitas 2 single bed, kipas angin, air minum gratis dan kamar mandi luar. Kebersihan dan fasilitas terawat. Harga 50rb/malam. Terletak di Jalan Sultan Hasanuddin(agak lupa nama jalannya) tidak terlalu jauh dari Gramedia.
Day 3 : Gili Trawangan. Kata orang belum ke Lombok kalo belum mengunjungi Gili Trawangan. Tapi setelah mengunjungi Gili Trawangan, agaknya persepsi orang salah. Gili Trawangan seperti luar negeri bagi saya. Telalu banyak atau malah isinya hanya wisatawan asing. Harga barang dan makanan juga tidak terjangkau bagi saya yang seorang backpacker pas-pasan hahahah. Tetapi, penginapan di Gili Trawangan ternyata tidak sesuai ekpektasi saya. Penginapan disana cukup murah, bahkan warga tidak membedakan harga penginapan antara wisatawan domestik dan luar negeri. Saya mendapatkan harga penginapan 80rb/malam dengan fasilitas yang memadai. Kamar luas, kasur springbed, ada wastafel, lemari, kamar mandi dalam, shower, kipas angin. Penginapan bersih, dekat dengan penginapan La Nina Backpacker (karena lagi-lagi saya lupa nama penginapannya)
Gili trawangan memiliki view yang bagus, sangat bagus. Tapi saya lebih senang dengan pemandangan di pantai Pink yang entah kenapa seperti membawa ketenangan dan keindahan tersendiri. Gili Trawangan terlalu ramai menurut saya. Disana kami tidak mendapat sunset maupun sunrise karena cuaca tidak mendukung.
Gili trawangan merupakan pulau kecil, kendaraan bermotor tidak diperkenankan berkeliaran disana. Transportasi utama di Gili Trawangan adalah sepeda ontel. Udaranya sangat segar dan bersih. It's nice to know you, Gili Trawangan.
Penyebrangan ke Gili Trawangan mulai pukul 08.00 - 17.00 WITA jadi penyebrangan terakhir adalah pukul 17.00 setelah harus menunggu esok harinya.
Day 4 : Karna waktu terbatas, esok harinya kami memutuskan untuk pulang ke Mataram. Pukul 10.00 menyebrang dari Gili menuju pelabuhan. Pulang dengan jalur berbeda, melewati hutan yang isinya banyak banget monyet-monyet disepanjang jalan. Entah apa nama hutannya. Pukul 13.00 mulai perjalanan pulang dari mataram, setelah berjalan sekian jauh dan sekian lama, akhirnya menemukan angkot menuju pelabuhan Lembar Lombok dengan tarif 10rb/org. Sesampainya di Pelabuhan Lembar Lombok, kami langsung dihampiri calo. Langsung ditodong dengan penawaran transportasi ke Pelabuhan Ketapang dengan tarif 200ribu. Setelah tawar-menawar akhirnya tarif turun menjadi 150 untuk 2 orang. Tranportasi yang kami tumpangi adalah truk Poso. Lumayan bisa jadi pengalaman, tapi truk Poso bukan transportasi yang saya sarankan untuk penumpang yang extra capek pake banget -__-
karena entah kenapa truk ini sperti gak punya shock breaker atau apapun itulah namanya, jadinya ya gitu -___- serasa mentok mentok gak jelas. Bermaksud menemani masnya yang nyetir truk dengan membuat obrolan ringan, tapi mata dan kesadaran saya gak kuat untuk tetap terjaga, akhirnya tertidur disaat masnya bercerita tentang kehidupannya. Sungguh, penumpang tak tahu diri --a
Tiba di Pelabuhan Ketapang pukul 24.00 WIB, langsung menuju stasiun Banyuwangi Baru dan memutuskan untuk tidur di emperan stasiun. Banyak juga calon penumpang yang juga beramalam di emperan stasiun. Dan tak diduga, ketemu sama anak UGM yang juga akan pulang ke Jogja setelah sebulan kuliah lapangan di Bali.
Setelah bermalam di emperan stasiun, kereta tiba pukul 06.30 WIB esok harinya
13 jam perjalanan dari Banyuwangi menuju Yogyakarta, partner yang semula tujuannya juga ke Yogyakarta beralih menuju ke Kediri demi misi kemanusiaan. Di tengah perjalanan, daripada bengong gak ada kerjaan, kami manfaatkan untuk menggalang dana bagi korban Letusan Gunung Kelud dari gerbong 1-6 dan alhamdulillah terkumpul lumayan banyak dan langsung disalurkan di posko bantuan di Kediri.
pukul 16.00 partner turun di stasiun Jombang dan saya ditinggalkan sendiri (lagi) hiks :(
pukul 20.30 WIB saya tiba di Jogja dijemput teman dan disambut oleh debu letusan Gunung Kelud yang ternyata tebalnya diluar dugaan, lebih tebal dari abu letusan Merapi 2010.
The holiday was over. 11 - 17 februari 2014.
Terimakasih jalan-jalannya :)
besok besok saya ditemani lagi, ya. Diajak kalo mau kemana-mana juga.
Here we go, pictures.
Karna saya ketinggalan kereta, saya mengusulkan kepada partner bahwa meeting point diubah jadi di stasiun Banyuwangi Baru saja, kemudian baru nyebrang ke Pelabuhan Ketapang sama-sama. Saya yang sok tegar berkata seperti itu, padahal saya tau kondisi terminal Surabaya itu keras dan penuh dengan calo-calo tak bertanggungjawab. Tapi ternyata partner nyusul ke terminal Surabaya hehehehe *blush*
Jam 18.00 saya tiba di terminal Surabaya, BungurAsih namanya. Jam 19.00 kemudian kami melanjutkan perjalanan menuju pelabuhan Ketapang, Banyuwangi. Waktu tempuh dari Surabaya-Ketapang adalah 8 jam dengan bis yang oper operan sana sini.. Akhirnya pukul 03.00 pagi sampailah kami di tempat pemberhentian terakhir bis. Jarak pos pemberhentian terakhir dengan pelabuhan Ketapang kurang lebih 3km, ditempuh dengan berjalan kaki, lumayan olahraga pagi hahahahah -________-
Sampai di pelabuhan Ketapang, berdua kemudian istirahat, mandi dan sholat. Setelah itu langsung melanjutkan perjalanan mengingat waktu juga terus berjalan. Pukul 06.00 kami melanjutkan perjalanan ke pelabuhan Gilimanuk sambil berharap harap bisa dapet sunrise di atas ferry, tapi ternyata (selalu) gak dapet, hahahahah
Pukul 06.45 WIB atau 07.45 WITA kami tiba di pelabuhan Gilimanuk. Sesampainya kemudian bertanya-tanya kepada petugas dinhub dan warga akses menuju pelabuhan Padang Bai. Ternyata bis Gilimanuk-Padang Bai hanya beroperasi pada jam 1-3 pagi WITA. Akhirnya rute perjalanan beralih menjadi Gilimanuk - Denpasar - Padang Bai.
Harga bis Gilimanuk - Denpasar (terminal Ubung) adalah 30ribu dengan fasilitas nature air conditioner dan waktu tempuh kurang lebih 5 jam. Well it's so long. tapi gak begitu kerasa karna capek banget, akhirnya tidur di bis. Setelah sampai di terminal Ubung, Denpasar kira2 pukul 12.30 WITA istirahat sebentar, makan sambil cari cari info bis ke Padang bai. Dapet nasehat dari ibu-ibu yang punya warung makan, kalo mau nanya-nanya bis mending tas dan segala perlengkapannya disimpen atau ditaroh dulu aja. Karna kalo udah sambil bawa barang, bisa jadi sasaran para calo-calo tak bertanggungjawab. Akhirnya setelah 30 menit mencari, dapetlah tebengan jurusan Jakarta - Bima, bis ke dari Terminal Ubung - Mataram seharga 100rb/org. Lumayan bisnya enak, AC, tetapi agak awkaward moment, karna kami berdua serasa orang asing di dalam bis tersebut -,-
Jika dikalkulasikan sepertinya kami cukup beruntung mendapatkan tumpangan dengan harga segitu hingga kota Mataram.
Start perjalanan dari Terminal Ubung - Mataram pukul 13.29 WITA ditambah kurang lebih 4,5 jam penyebrangan dengan ferry ke Pelabuhan Lembar Lombok. Akhirnya sampai pelabuhan Lembar Lombok pukul 20.00 WITA. Kemudian dari Pelabuhan Lembar Lombok kembali melanjutkan perjalanan dengan bis menuju terminal Bertais kurang lebih 1 jam. Di Terminal Bertais, kami dijemput oleh salah seorang anggota UKESMA, Mas Adi *hulahop* setelah itu kami dijamu, menentukan tujuan untuk beberapa hari ke depan, lalu istirahat. Perjalanan dari Jogja-Mataram ditempuh kurang lebih 35 jam perjalanan -______________________-
Day 1 : Snorkling di Pantai Pink, Pulau Semangkuk, Gili Indah, Pantai Pink 2, Tanjung Ringgit.
Day 2 : Pantai Kuta - Tanjung Aan - Pantai Batu Payung - Pantai Novotel - Kuliner Ayam Taliwang - cari penginapan
Day 3 : Cari oleh-oleh ; Sengigi ; Gili Trawangan.
Day 4 : Pulang
Day 1 : Hari pertama langung menuju Pantai Pink, dapet saran dari Komunitas Lombok Backpacker karna Pantai Pink masih jarang terjamah oleh para wisatawan, masih murni dan asri. Waktu tempuh dari Mataram ke Pantai Pink kurang lebih 3 jam perjalanan menggunakan motor. Jalanan di Kota Mataram begitu lengang dan sama sekali tidak ada macet-macetnya. Tidak begitu terlalu banyak traffic light. Pantai Pink Terletak di Tenggara Pulau Lombok, Sekitar 2km sebelum menuju pantai Pink akses jalannya tidak begitu bagus, jalanan belum beraspal dan masih asli dari tanah. Lebih baik menggunakan motor apabilam berkunjung ke tempat ini, daripada memakai mobil dan harus mendorong mobil karena resiko ban selip sangat besar, hehe
Pukul 07.00 WITA berangkat dari rumah , jam 10.00 WITA kita sampai di Pantai Pink. Absolutely beautiful beach. Pasirnya bener-bener pink. Hanya ada satu grup wisatawan dari Jepang yang sedang berkunjung waktu itu selain kami. Setelah sampai disana, beberapa menit kemudian dihampiri oleh penduduk setempat dan menawari snorkling keliling 3 tempat yaitu Pantai Pink 1, Pulau semangkuk, Gili Indah dan Pantai Pink 2. Setelah tawar menawar harga, akhirnya deal 250k seharian udah sama boat dan 3 alat snorkle. Keindahan bawah laut di 3 perairan itu. I cant describe it. Keren banget, keren ! Dari permukaan air, terumbu-terumbu karangnya udah keliatan banget. Terumbu karang udah berkumpul semacam hutan dalam bawah air, dan hanya berjarak 2 meter dari permukaan air sudah dapat melihat koloni rumah ikan nemo. Diajak keliling 3 tempat sama bapaknya yang punya boat, bapaknya baik sayangnya saya lupa namanya :|
pas di tempat ketiga yaitu Gili Indah, cincinnya Mas EZ jatuh tenggelam dan tak ditemukan udah dibantu bapaknya nyari tapi tetep gak ketemu, mungkin pertanda siapa tau bakal kesana lagi :D
Selain cincin yang tenggelam, tangan kanan saya juga ketumpahan air mendidih pas bikin kopi di atas boat :|
But, well semuanya terbayar sama pemandangan di Pantai Pink 2. Awesome.
Pukul 16.00 kami memutuskan untuk menyudahi jalan-jalan, kemudian mandi dan sholat. Karena merupakan kawasan wisata yang baru dibuka dan belum terlalu terkenal. Fasilitas disana pun sangat minim. Jangan kaget jika kesana, tempat ganti bajunya hanya berupa bilik dari kayu seadanya yang hanya ditutupi gorden. Begitu pula dengan toiletnya, dibangun dari bilik bambu, beratapkan langit, airnya pun harus ditimba terlebih dahulu, saluran air seadanya dan kadang tergenang disekitar bilik. Semoga pemerintah daerah bisa cepat peka akan adanya potensi alam yang besar di daerah tersebut dengan membangun fasilitas dan menjadikan sebagai tempat pariwisata yang layak.
Pukul 17.00 kami berpamitan dengan penduduk sekitar, mengunjungi Tanjung Ringgit untuk hunting sunset. Tanjung Ringgit merupakan ujung pulau Lombok. Dari sana kita bisa melihat luasnya samudra dan jejak jejak sejarah bekas perjuangan pejuang kemerdekaan dahulu kala.
Tanjung Ringgit is the most romantic place ever ever <3
Day 2 : Hari kedua, dikejutkan dengan berita meletusnya Gunung Kelud. Semangat jalan-jalan jadi hampir hilang. Handphone berdering terus menerus. Masing-masing sibuk dengan urusannya. Yang satu koordinasi pembentukan posko bantuan di Jogja, yang satu sibuk koordinasi dengan daerah meletusnya Gunung Kelud. Rencana jalan-jalan jam 08.00 pun jadi tertunda hingga pukul 10.00. Dengan pikiran yang masih kemana-mana akhirnya tetap memutuskan untuk melanjutkan perjalanan ke pantai Kuta, Tanjung Aan, Batu payung dan sekitarnya. Di tengah perjalanan, hujan melanda, rantai motor lepas seperti senasib dengan perasaan dan pemikiran. Sesampainya di tempat tujuan Pantai Kute, Tanjung Aan, Batu Payung, Pantai Novotel dll masih juga disambut dengan hujan yang cukup deras. Pantai pantai ini terletak berjajar dan masih berada di satu kawasan. Pantai Kute merupakan pantai yang paling ramai dan dipenuhi dengan wisatawan asing, tapi tidak seramai jika dibandingkan dengan pantai Kuta, Bali.
Setelah mengunjungi pantai-pantai tersebut menjelang maghrib memutuskan untuk kembali ke Mataram, singgah di monumen Masjid sekedar untuk berfoto, singgah lagi untuk menyantap kuliner Ayam Bakar Taliwang yang ternyata harganya lumayan merogoh kocek, walaupun hanya makan di pinggiran jalan. Ayam Bakar Taliwang merupakan kuliner khas lombok, ayam kampung berukuran sedang dengan bumbu kacang khas lombok. Satu porsi ayam bakar taliwang + nasi yang waktu itu saya coba adalah 34ribu/porsi. Harga yang lumayan bikin dompet langsung masuk angin.
Setelah mencicipi kuliner ayam taliwang, kami memutuskan untuk mencari penginapan di Mataram karna Mas Adi akan lebih dulu pulang ke Jogja. Harga penginapan di Mataram cukup murah. Mulai dari 30rb/malam hingga 200rb/malam. dan itu terletak di pusat kota Mataram. Adalah Hotel Internasional yang memiliki harga kamar 30rb/malam dengan fasilitas kamar mandi luar. Tapi saya tidak menyarankan disini karna kebersihan dan fasilitasnya kurang terawat. Di hotel Internasional juga manyediakan rental motor dengan harga 50rb/hari.
setelah mencari beberapa lama akhirnya kami memutuskan untuk bermalam di Hotel Merpati, dengan fasilitas 2 single bed, kipas angin, air minum gratis dan kamar mandi luar. Kebersihan dan fasilitas terawat. Harga 50rb/malam. Terletak di Jalan Sultan Hasanuddin(agak lupa nama jalannya) tidak terlalu jauh dari Gramedia.
Day 3 : Gili Trawangan. Kata orang belum ke Lombok kalo belum mengunjungi Gili Trawangan. Tapi setelah mengunjungi Gili Trawangan, agaknya persepsi orang salah. Gili Trawangan seperti luar negeri bagi saya. Telalu banyak atau malah isinya hanya wisatawan asing. Harga barang dan makanan juga tidak terjangkau bagi saya yang seorang backpacker pas-pasan hahahah. Tetapi, penginapan di Gili Trawangan ternyata tidak sesuai ekpektasi saya. Penginapan disana cukup murah, bahkan warga tidak membedakan harga penginapan antara wisatawan domestik dan luar negeri. Saya mendapatkan harga penginapan 80rb/malam dengan fasilitas yang memadai. Kamar luas, kasur springbed, ada wastafel, lemari, kamar mandi dalam, shower, kipas angin. Penginapan bersih, dekat dengan penginapan La Nina Backpacker (karena lagi-lagi saya lupa nama penginapannya)
Gili trawangan memiliki view yang bagus, sangat bagus. Tapi saya lebih senang dengan pemandangan di pantai Pink yang entah kenapa seperti membawa ketenangan dan keindahan tersendiri. Gili Trawangan terlalu ramai menurut saya. Disana kami tidak mendapat sunset maupun sunrise karena cuaca tidak mendukung.
Gili trawangan merupakan pulau kecil, kendaraan bermotor tidak diperkenankan berkeliaran disana. Transportasi utama di Gili Trawangan adalah sepeda ontel. Udaranya sangat segar dan bersih. It's nice to know you, Gili Trawangan.
Penyebrangan ke Gili Trawangan mulai pukul 08.00 - 17.00 WITA jadi penyebrangan terakhir adalah pukul 17.00 setelah harus menunggu esok harinya.
Day 4 : Karna waktu terbatas, esok harinya kami memutuskan untuk pulang ke Mataram. Pukul 10.00 menyebrang dari Gili menuju pelabuhan. Pulang dengan jalur berbeda, melewati hutan yang isinya banyak banget monyet-monyet disepanjang jalan. Entah apa nama hutannya. Pukul 13.00 mulai perjalanan pulang dari mataram, setelah berjalan sekian jauh dan sekian lama, akhirnya menemukan angkot menuju pelabuhan Lembar Lombok dengan tarif 10rb/org. Sesampainya di Pelabuhan Lembar Lombok, kami langsung dihampiri calo. Langsung ditodong dengan penawaran transportasi ke Pelabuhan Ketapang dengan tarif 200ribu. Setelah tawar-menawar akhirnya tarif turun menjadi 150 untuk 2 orang. Tranportasi yang kami tumpangi adalah truk Poso. Lumayan bisa jadi pengalaman, tapi truk Poso bukan transportasi yang saya sarankan untuk penumpang yang extra capek pake banget -__-
karena entah kenapa truk ini sperti gak punya shock breaker atau apapun itulah namanya, jadinya ya gitu -___- serasa mentok mentok gak jelas. Bermaksud menemani masnya yang nyetir truk dengan membuat obrolan ringan, tapi mata dan kesadaran saya gak kuat untuk tetap terjaga, akhirnya tertidur disaat masnya bercerita tentang kehidupannya. Sungguh, penumpang tak tahu diri --a
Tiba di Pelabuhan Ketapang pukul 24.00 WIB, langsung menuju stasiun Banyuwangi Baru dan memutuskan untuk tidur di emperan stasiun. Banyak juga calon penumpang yang juga beramalam di emperan stasiun. Dan tak diduga, ketemu sama anak UGM yang juga akan pulang ke Jogja setelah sebulan kuliah lapangan di Bali.
Setelah bermalam di emperan stasiun, kereta tiba pukul 06.30 WIB esok harinya
13 jam perjalanan dari Banyuwangi menuju Yogyakarta, partner yang semula tujuannya juga ke Yogyakarta beralih menuju ke Kediri demi misi kemanusiaan. Di tengah perjalanan, daripada bengong gak ada kerjaan, kami manfaatkan untuk menggalang dana bagi korban Letusan Gunung Kelud dari gerbong 1-6 dan alhamdulillah terkumpul lumayan banyak dan langsung disalurkan di posko bantuan di Kediri.
pukul 16.00 partner turun di stasiun Jombang dan saya ditinggalkan sendiri (lagi) hiks :(
pukul 20.30 WIB saya tiba di Jogja dijemput teman dan disambut oleh debu letusan Gunung Kelud yang ternyata tebalnya diluar dugaan, lebih tebal dari abu letusan Merapi 2010.
The holiday was over. 11 - 17 februari 2014.
Terimakasih jalan-jalannya :)
besok besok saya ditemani lagi, ya. Diajak kalo mau kemana-mana juga.
Here we go, pictures.
| Pantai Pink 2 |
| dari foto aja bisa keliatan kan, terumbu karangnya? :3 |
| Pantai Pink 2 |
| Mas Adi dan kegalauan |
| Ini dia Boat bapaknya :D |
| Tanjung Ringgit. well, that tree is the most romantic place that i ever seen. |
| Tanjung Aan, Batu Payung. Cuaca lagi gak bagus waktu itu. |
| Pantai Novotel |
| Gak tau nama pantainya apa |
| Gak tau nama pantainya apa --a |
| Pantai Kute, Lombok |
| Sengigi, Lombok |
| Gili Trawangan |
| Gili Trawangan |
| Bye Lombok, Bye |
| Sunset di atas Kapal |
Bunch of thankyou, bos.
Kapan kita kemana lagi? :D
Kapan kita kemana lagi? :D
Label:
LIFE,
wisataaaa
|
0
komentar
Langganan:
Postingan (Atom)
this is me !
- wny
- an unexpected girl. already 23th. a happy wife, unpredict,lovely,care. Already found her travelmate. blog is one of my way to scream out my mind just about everything inside this brain, part of my life, my 2nd diary :')























